Klasifikasi Penyakit Dan Tipe Penderita
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita tuberkulosis memerlukan suatu definisi kasus yang memberikan batasan baku setiap klasifikasi dan tipe penderita. Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita penting dilakukan untuk menetapkan panduan OAT yang sesuai dan dilakukan sebelum pengobatan dimulai (Depkes RI, 2005).
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan definisi-kasus, yaitu : (Depkes RI, 2005)
- Organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru;
- Hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung: BTA positif atau BTA negatif;
- Riwayat pengobatan sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati;
- Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.
Berdasarkan tempat/organ yang diserang oleh kuman,
maka tuberculosis dibedakan menjadi Tuberkulosis Paru, Tuberkulosis Ekstra
Paru (Depkes RI, 2005).
A.
Tuberkulosis paru adalah
tuberkulosis yang menyerang jaringan parenchym paru, tidak termasuk pleura
(selaput paru). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam:
1. Tuberkulosis
Paru BTA Positif.
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
pesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran
tuberkulosis aktif. (Depkes RI, 2005).
2. Tuberkulosis
Paru BTA Negatif
Pemeriksaan
3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan
gambaran tuberkulosis aktif (Depkes RI,
2005).
TB Paru BTA Negatif Rontgen Positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses "far advanced" atau millier), dan/atau keadaan umum penderita buruk (Depkes RI, 2005).
B. Tuberkulosis Ekstra Paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu : (Depkes RI, 2005).
1. TB
Ekstra Paru Ringan
Misalnya:
TB kelenjar limphe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
2. TB
Ekstra-Paru Berat
Misalnya:
meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa duplex, TB
tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin.
Sedangkan berdasarkan riwayat pengobatan penderita, dapat digolongkan atas tipe; kasus baru, kambuh, pindahan, lalai, gagal dan kronis (Depkes RI, 2005).
·
Kasus Baru adalah
penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT
kurang dari satu bulan (30 dosis harian) (Depkes RI, 2005).
·
Kambuh (Relaps) adalah
penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis
dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif (Depkes
RI, 2005).
·
Pindahan (Transfer In) adalah
penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain dan kemudian
pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan tersebut harus membawa
surat rujukan / pindah (Form TB. 09) (Depkes RI, 2005).
·
Lalai (Pengobatan setelah
default/drop-out) adalah penderita yang sudah berobat
paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian dating kembali
berobat. Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
positif (Depkes RI, 2005).
·
Gagal adalah
penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif
pada akhir bulan ke 5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau lebih; atau
penderita dengan hasil BTA negatif Rontgen positif menjadi BTA positif pada
akhir bulan ke 2 pengobatan (Depkes RI,
2005).
·
Kronis adalah
penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan
ulang kategori 2 (Depkes RI, 2005).
Catatan:
TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru,
dapat juga mengalami kambuh, gagal, default maupun menjadi kasus kronik.
Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan secara patologik, bakteriologik (biakan),
radiologik, dan pertimbangan medis spesialistik.
Tindakan Pencegahan
Ada beberapa tips untuk membantu menjaga dan pencegahan penyakit TB kepada teman dan keluarga dari infeksi kuman :
1. Tinggal
di rumah. Jangan pergi kerja atau sekolah atau tidur di kamar dengan orang lain
selama beberapa minggu pertama pengobatan untuk TB aktif
2. Ventilasi
ruangan. Kuman TB menyebar lebih mudah dalam ruangan tertutup kecil di mana udara
tidak bergerak. Jika ventilasi ruangan masih kurang, buka jendela dan gunakan
kipas untuk meniup udara dalam ruangan ke luar.
3. Tutup
mulut mengunakan masker. Gunakan masker untuk menutup mulut kapan saja ini merupakan
langkah pencegahan TB secara efektif. Jangan lupa untuk membuang masker secara
teratur.
4. Meludah
hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberikan desinfektan (air sabun).
5. Imunisasi
BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan
6. Hindari
udara dingin.
7. Usahakan
sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur.
8. Menjemur
kasur, bantal, dan tempat tidur terutama pagi hari.
9. Semua
barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak
boleh digunakan oleh orang lain.
10. Makanan
harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein.
(Tjandra, 1994).
A. Pengawasan
Pederita, kontak dan lingkungan
1. Oleh
penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak disembarangan tempat.
2. Oleh
masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan terhadap bayi harus diberikan vaksinasi BCG.
3. Oleh
petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat
yang ditimbulkannya.
4. Isolasi,
pemeriksaan kepada orang–orang yang terinfeksi, pengobatan khusus TBC. Pengobatan mondok dirumah sakit hanya
bagi penderita yang kategori berat yang
memerlukan pengembangan program pengobatannya yang karena alasan – alasan sosial ekonomi dan medis untuk tidak
dikehendaki pengobatan jalan.
5. Des-Infeksi,
Cuci tangan dan tata rumah tangga keberhasilan yang ketat, perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring,
hundry, tempat tidur, pakaian) ventilasi
rumah dan sinar matahari yang cukup.
6. Imunisasi
orang–orang kontak. Tindakan pencegahan bagi orang–orang sangat dekat (keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan
lain) dan lainnya yang terindikasinya
dengan vaksi BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular.
7. Penyelidikan
orang–orang kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota keluarga dengan foto rontgen yang bereaksi positif,
apabila cara–cara ini negatif, perlu diulang
pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, perlu penyelidikan intensif.
8. Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat obat–obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter di minum dengan tekun dan teratur, waktu yang lama (6 atau 12 bulan). Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat, dengan pemeriksaaan penyelidikan oleh dokter (Depkes RI, 1997).
B. Tindakan
Pencegahan.
1. Status
sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan
pendidikan kesehatan.
2. Tersedia
sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan pnderita, kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan
dini bagi penderita, kontak, suspect,
perawatan.
3. Pengobatan
preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH
sebagai pencegahan.
4. BCG,
vaksinasi diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarganya. Diulang 5 tahun kemudian
pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa
tempat pencegahan.
5. Memberantas
penyakit TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi dan pasteurisasi air susu sapi .
6. Tindakan
mencegah bahaya penyakit paru kronis karena menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja
semen dan sebagainya.
7. Pemeriksaan
bakteriologis dahak pada orang dengan gejala TBC paru.
8. Pemeriksaan
screening dengan tuberculin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang–orang kontak dengan
penderita, petugas dirumah sakit,
petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.
9. Pemeriksaan foto rontgen pada orang–orang yang positif dari hasil pemeriksaan tuberculin test (Depkes RI, 1997).
Cara terbaik untuk mencegah TB adalah dengan
pengobatan terhadap pasien yang mengalami infeksi TB sehingga rantai penularan
terputus. Tiga topik dibawah ini merupakan topik yang penting untuk pencegahan
TB (Wieslaw et al, 2001) :
1. Proteksi terhadap paparan TB
Diagnosis dan tatalaksana dini merupakan cara terbaik untuk menurunkan paparan terhadap TB. Risiko paparan terbesar terdapat di bangsal TB dan ruang rawat, dimana staf medis dan pasien lain mendapat paparan berulang dari pasien yang terkena TB. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemungkinan transmisi antara lain :
a. Cara batuk
Cara ini merupakan cara yang sederhana, murah, dan efektif dalam mencegah penularan TB dalam ruangan. Pasien harus menggunakan sapu tangan untuk menutupi mulut dan hidung, sehingga saat batuk atau bersin tidak terjadi penularan melalui udara.
b. Menurunkan
konsentrasi bakteri
-
Sinar Matahari dan Ventilasi
Sinar
matahari dapat membunuh kuman TB dan ventilasi yang baik dapat mencegah
transmisi kuman TB dalam ruangan.
-
Filtrasi :Penyaringan udara tergantung
dari fasilitas dan sumber daya yang tersedia.
-
Radiasi UV bakterisidal
M.tuberculosis
sangat sensitifterhadap radiasi UV bakterisidal. Metode radiasi ini sebaiknya
digunakan di ruangan yang dihuni pasien TB yang infeksius dan ruangan dimana dilakukan
tindakan induksi sputum ataupun bronkoskopi.
c. Masker
Penggunaan
masker secara rutin akan menurunkan penyebaran kuman lewat udara. Jika memungkinkan,
pasien TB dengan batuk tidak terkontrol disarankan menggunakan masker setiap
saat. Staf medis juga disarankan menggunakan masker ketika paparan terhadap
sekret saluran nafas tidak dapat dihindari.
d. Rekomendasi
NTP (National TB Prevention) terhadap paparan TB:
-
Segera rawat inap pasien dengan TB paru
BTA (+) untuk pengobatan fase intensif, jika diperlukan.
-
Pasien sebaiknya diisolasi untuk
mengurangi risiko paparan TB ke pasien lain.
-
Pasien yang diisolasi sebaiknya tidak
keluar ruangan tanpa memakai masker.
- Pasien yang dicurigai atau dikonfirmasi terinfeksi TB sebaiknya tidak ditempatkan di ruangan yang dihuni oleh pasien yang immunocompromised, seperti pasien HIV, transplantasi, atau onkologi.
2. Vaksinasi
BCG (Bacillus Calmette Guerin)
BCG
merupakan vaksin hidup yang berasal dari M.bovis. Fungsi BCG adalah melindungi anak terhadap TB diseminata
dan TB ekstra paru berat (TB meningitis dan TB milier). BCG tidak memiliki efek
menurunkan kasus TB paru pada dewasa. BCG diberikan secara intradermal kepada
populasi yang belum terinfeksi.
a. Tes
Tuberkulin
Neonatus
dan bayi hingga berusia 3 bulan tanpa adanya riwayat kontak dengan TB, dapat
diberikan vaksinasi BCG tanpa tes tuberkulin sebelumnya.
b. Vaksinasi
Rutin
Pada
negara dengan prevalensi TB yang tinggi, WHO merekomendasikan pemberian
vaksinasi BCG sedini mungkin, terutama saat baru lahir. Pada bayi baru lahir
hingga usia 3 bulan, dosisnya adalah 0,05 ml sedangkan untuk anak yang lebih
besar diberikan 0,1 ml.
3. Terapi
Pencegahan
Tujuan
terapi pencegahan adalah untuk mencegah infeksi TB menjadi penyakit, karena
penyakit TB dapat timbul pada 10 % orang yang mengalami infeksi TB.
Kemoprofilaksis dapat diberikan bila ada riwayat kontak dengan tes tuberkulin
positif tetapi tidak ada gejala atau bukti radiologis TB. Obat yang digunakan
biasanya adalah isoniazid (5 mg/kg) selama 6 bulan. Jika memungkinkan,
dilakukan dengan pengamatan langsung. Kelompok yang mendapat profilaksis, yaitu
:
- Bayi dengan ibu yang terinfeksi TB paru Bayi
yang sedang mendapat ASI dari ibu dengan TB paru, sebaiknya mendapat isoniazid
selama 3 bulan. Setelah 3 bulan, dilakukan tes tuberkulin. Jika hasil negatif
maka diberikan vaksinasi, jika positif maka dilanjutkan isoniazid selama 3
bulan lagi. Jika terdapat adanya bukti penyakit, maka perlu diberikan pengobatan
penuh.
- Anak dengan riwayat kontak, tuberkulin
negatif, tampak sehat, tanpa riwayat BCG, sama seperti di atas.
-
Anak dengan riwayat kontak, tuberkulin
positif (tanpa riwayat BCG).
· Anak tanpa gejala sebaiknya diberikan
profilaksis isoniazid 6 bulan.
· Anak dengan gejala dan pemeriksaan yang
menunjukkan TB diberikan pengobatan TB.
· Anak dengan gejala, tapi pemeriksaan
tidak menunjukkan TB, diberikan profilaksis isoniazid
(Wieslaw et al, 2001).
Komplikasi dan Prognosis
Terdapat berbagai macam komplikasi TB paru, dimana
komplikasi dapat terjadi di paru-paru, saluran nafas, pembuluh darah,
mediastinum, pleura ataupun dinding dada (Jeoung dan Lee, 2008).
Komplikasi TB ini dapat terjadi baik pada pasien
yang diobati ataupun tidak. Secara garis besar, komplikasi TB dikategorikan
menjadi:
1. Lesi
Parenkim
- Tuberkuloma dan
thin-walled cavity.
- Sikatriks dan
destruksi paru.
- Aspergilloma.
- Karsinoma
bronkogenik.
2. Lesi
Saluran Nafas
- Bronkiektasis.
- Stenosis
trakeobronkial.
- Bronkolitiasis.
3. KomplikasiVaskular
- Trombosis dan
vaskulitis.
- Dilatasi arteri
bronchial.
- Aneurisma rassmussen.
4. Lesi
Mediastinum
- Kalsifikasi nodus
limfa.
- Fistula
esofagomediastinal.
- Tuberkulosis
perikarditis.
5. Lesi
Pleura
- Chronic tuberculous
empyema dan fibrothorax.
- Fistula bronkopleura.
- Pneumotoraks.
6. Lesi
dinding dada
- TB kosta.
- Tuberculous
spondylitis.
- Keganasanyang
berhubungan dengan empyema kronis
(Kim et al, 2008).
Prognosis dapat menjadi buruk bila dijumpai
keterlibatan ekstraparu, keadaan immunodefisiensi, usia tua, dan riwayat
pengobatan TB sebelumnya. Pada suatu penelitian TB di Malawi, 12 dari 199 orang
meninggal, dimana faktor risiko terjadinya kematian diduga akibat BMI yang
rendah, kurangnya respon terhadap terapi dan keterlambatan diagnosa (Herchline,
2013).
Bahwa terapi dengan sistem DOTS memiliki tingkat
kekambuhan 0-14 %. Pada negara dengan prevalensi TB yang rendah, kekambuhan
biasanya timbul 12 bulan setelah pengobatan selesai dan biasanya diakibatkan
oleh relaps. Hal ini berbeda pada negara dengan prevalensi TB yang tinggi,
dimana kekambuhan diakibatkan oleh reinfeksi (Herchline, 2013).
Daftar Pustaka
Depkes,
RI. 1997. Pedoman penyakit tuberkulosis dan penanggulangannya. Dirjen P2M dan PLP, Jakarta.
Depkes,
RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk
Penyakit Tuberkulosis. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat
Jenderal Binda Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Herchline,
T.E., 2013. Tuberculosis. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/230802-overview
[Accesed 7 May 2018].
Kim,
S.J.Espinal, M.A., Lazslo, A., Simonsen, L., Boulahbal, F., Reniero, A.,et al.
(2008) Global trends resistance to antituberculosis drugs, New England Journal
Medicine, 344(17), 1294-1303.
Tjandra
Y, A, 1994. Masalah tuberkulosis paru dan penanggulangannya, Universitas Indonesia, Jakarta.
Wieslaw, J.,et al, 2001. TB Manual National Tuberculosis Programme Guidelines.Available from : www.euro.who.int/__data/assets/.../E75464.pdf [Accesed 7 May 2018].